Tahun-Tahun yang Hilang: Perjalanan Tersembunyi Ismail dalam Kitab Kejadian (Bible)

🌿 Tahun-Tahun yang Hilang: Perjalanan Tersembunyi Ismail dalam Kitab Kejadian (Bible)


☘️ Pendahuluan


Kitab Kejadian memuat sebuah keheningan yang mencolok dalam kehidupan Ismail.

Ia lahir dalam Kitab Kejadian 16… lalu menghilang dari narasi.


Ketika kita bertemu dengannya kembali—dalam Kitab Kejadian 17—ia tiba-tiba berusia tiga belas tahun, berdiri di samping Abraham, bersiap untuk disunat.


Apa yang terjadi selama tahun-tahun yang hilang itu?

Mengapa teks menjadi sunyi?

Dan apa yang diungkapkan oleh keheningan ini tentang kisah Abrahamik yang lebih mendalam?


Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menelaah dua peristiwa besar yang menyusul:


• Kitab Kejadian 21, di mana Ismail digambarkan sebagai seorang anak yang tak berdaya dan diusir ke padang gurun,

• dan Kitab Kejadian 22, di mana Ibrahim (Abraham) diperintahkan untuk mengorbankan “anaknya yang tunggal”.


Jika dibaca secara berurutan—dan tanpa mengasumsikan lapisan editorial belakangan—kedua narasi ini menunjuk kepada Ismail sebagai anak sulung Abraham, yang dikasihi, dan satu-satunya anaknya pada saat-saat tersebut.



🌱 Masa Kanak-Kanak Ismail dan Ujian Pemisahan


(Kitab Kejadian 21:14–20)


Kitab Kejadian 21 menggambarkan Ibrahim (Abraham) meletakkan Ismail di atas bahu Hagar, lalu Hagar membaringkannya di bawah semak untuk mati kehausan.

Ini bukan gambaran seorang remaja berusia tiga belas tahun.


Kata Ibrani נַעַר (naʿar), yang sering diterjemahkan sebagai “anak” atau “budak”, memang mencakup rentang usia yang luas.

Namun konteks di sini—digendong, tidak mampu berjalan, menangis karena kehausan—jelas menunjukkan bahwa Ismail masih seorang anak kecil.


Kemudian ayat 20 menyatakan:


Dan Allah menyertai anak itu, dan ia bertambah besar.”


Ungkapan וַיִּגְדָּ֑ל (vayigdal)—“dan ia bertambah besar”—menandai permulaan tahap perkembangan baru setelah masa kanak-kanaknya.


Banyak sarjana mencatat bahwa Kitab Kejadian 21:9–10—kemunculan mendadak kecemburuan Sarah—tampak sebagai sisipan editorial belakangan.

Tujuannya?

Untuk membenarkan penyingkiran Ismail dari narasi perjanjian demi mengutamakan Ishak.


Namun di balik lapisan ini, narasi asli justru menyoroti sebuah ujian ilahi terhadap Abraham—ujian yang berpusat pada kehidupan anak sulungnya.



🌷 Penyembelihan “Anak yang Tunggal”


(Kitab Kejadian 22:1–19)


Dalam pasal berikutnya, Kitab Kejadian 22, Allah berfirman kepada Abraham:


Ambillah anakmu, anakmu yang tunggal, yang engkau kasihi…


Pada titik ini dalam kisah tersebut, Abraham memiliki dua orang anak.

Ismail masih hidup, telah diberkati, dan tinggal di Paran.


Lalu bagaimana mungkin Ishak disebut sebagai “anak yang tunggal”?


Ketegangan ini telah mendorong banyak sarjana kritis untuk menyimpulkan bahwa narasi asli Akedah (pengorbanan)—Kitab Kejadian 22—pada mulanya berkaitan dengan Ismail, bukan Ishak.

Nama Ishak diyakini ditambahkan kemudian untuk menyesuaikan kisah tersebut dengan teologi Israel yang semakin menekankan pemilihan eksklusif.


Kesamaan antara kedua kisah ini sangat mencolok:


• Dalam Kitab Kejadian 21, seorang anak ditinggalkan untuk mati; seorang malaikat berseru dari langit dan menyelamatkannya.

• Dalam Kitab Kejadian 22, seorang anak hampir dikorbankan; seorang malaikat berseru dari langit dan menyelamatkannya.


Dua ujian.

Dua nyaris-kematian.

Dua intervensi ilahi.


Satu kisah asal:

Iman Abraham diuji melalui Ismail.



🍁 Sisipan Editorial dan Teologi Perjanjian


Bentuk akhir Kitab Kejadian mencerminkan lapisan-lapisan penyuntingan teologis:

1. Kitab Kejadian 21:9–10 membenarkan penyingkiran Ismail.

2. Kitab Kejadian 22 dibentuk ulang sehingga Ishak menjadi anak yang dikorbankan.


Perubahan-perubahan ini mencerminkan pembentukan identitas Israel di kemudian hari, tetapi tidak menghapus tradisi yang lebih awal dan lebih mendalam yang menempatkan Ismail di pusat ujian-ujian Abraham.



🍀 Kesimpulan


Jika dibaca tanpa lapisan editorial belakangan, Kitab Kejadian 21 dan 22 tampak terjadi sebelum Kejadian 17.


Dalam urutan naratif yang direkonstruksi ini:


• Ismail adalah satu-satunya anak Abraham.

• Iman Abraham diuji melalui dirinya.

• Perjanjian dalam Kitab Kejadian 17 menjadi pengesahan resmi dari hubungan yang telah terbukti melalui ketaatan.


Barulah kemudian Ishak memasuki kisah lembaran sebagai sebuah anugerah—

sebuah ganjaran penuh sukacita setelah Ibrahim (Abraham) menanggung ujian-ujian terberat bersama Ismail.


Dengan demikian, Ismail bukanlah tokoh pinggiran.

Ia berdiri di inti narasi Abrahamik, sebagai wadah pertama dari berkat, rahmat, dan ujian ilahi.

Lihat kandungan