📜 Keluarga Ibrahim dalam Perspektif Islam dan Yudeo-Kristen
Ismail sebagai Anak Pengorbanan dan Perjanjian, Ishaq sebagai Anak Ganjaran dan Berkah
⸻
🌟 Pendahuluan
Dalam tradisi agama Abrahamik, keluarga Nabi Ibrahim (Ibrāhīm عليه السلام) dipandang sebagai teladan suci dalam hal ketaatan dan janji ilahi. Namun, kisah keluarga ini ditafsirkan secara berbeda antara tradisi Islam dan Yudeo-Kristen.
Dalam pemahaman Islam, keluarga Ibrahim bukanlah kisah persaingan, melainkan urutan dan keharmonisan ilahi. Ismail (Ismāʿīl عليه السلام) adalah 🕋 anak pengorbanan, melalui dialah ujian tertinggi iman disempurnakan dan perjanjian ditegakkan. Sementara Ishaq (Isḥāq عليه السلام) adalah 👶 anak ganjaran, yang diberikan kepada Ibrahim dan Sarah sebagai anugerah ilahi setelah mereka bersabar dan taat.
Sebaliknya, tradisi Yudeo-Kristen kerap menggambarkan rumah tangga Ibrahim sebagai penuh kecemburuan dan pengasingan. Islam 🕊️ memulihkan kesatuan dalam narasi ini dengan mengakui bahwa kedua putra tersebut merupakan bagian integral dari rencana perjanjian Tuhan yang terus berlangsung.
⸻
1. 🩸 Pengorbanan yang Hampir Terjadi: Ismail sebagai Anak Ujian
Al-Qur’an mengisahkan ujian terbesar Nabi Ibrahim — perintah untuk menyembelih anak yang dicintainya:
“Ia berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’
Ia menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
— Surah al-Ṣāffāt 37:102
🧔🤝🧒 Baik sang ayah maupun anak menunjukkan ketundukan sempurna terhadap kehendak Ilahi. Ketika Ibrahim melaksanakan perintah itu, Allah menggantinya:
“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”
— Surah al-Ṣāffāt 37:107–108
Peristiwa ini menandai puncak dari berbagai ujian Ibrahim dan kesempurnaan imannya. 📚 Para mufassir klasik seperti al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr menegaskan bahwa anak yang dimaksud adalah Ismail, karena kelahiran Ishaq terjadi setelahnya. Dengan demikian, Ismail menjadi anak ujian, pengorbanan, dan ketundukan terhadap perjanjian — sosok yang melaluinya ketaatan Ibrahim dikenang sepanjang masa.
⸻
2. 📜 Perjanjian Diberikan Setelah Pengorbanan
Al-Qur’an menjelaskan bahwa perjanjian Ilahi (ʿahd) diberikan setelah Ibrahim berhasil melewati semua ujian — yang berpuncak pada peristiwa pengorbanan:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu dia melaksanakannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi umat manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan dari keturunanku?’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.’”
— Surah al-Baqarah 2:124
Ayat ini menandai 📌 penetapan resmi dari Perjanjian Abrahamik, yang hanya diberikan setelah bukti ketaatan yang sempurna. Perjanjian ini tidak diwariskan secara otomatis, tetapi diperoleh melalui kesetiaan dan pengabdian.
Karena Ismail adalah anak yang terlibat dalam ujian tertinggi ini, maka perjanjian secara alami dilanjutkan melalui keturunannya — garis keturunan ketundukan (🕋 islām) — yang berpuncak pada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa terakhir dari misi Abrahamik.
📈 Pola perjanjian ini:
Ujian → Pemenuhan → Perjanjian → Ganjaran
⸻
3. 👶 Ishaq: Anak Ganjaran dan Berkah
Setelah ujian Ibrahim dan penetapan perjanjian, Allah memberikan kabar gembira kepada Ibrahim dan Sarah tentang kelahiran seorang putra — Ishaq:
“Dan Kami beri dia kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq, seorang nabi dari golongan orang-orang yang saleh.”
— Surah al-Ṣāffāt 37:112
Kelahiran Ishaq merupakan 🎁 ganjaran ilahi atas kesetiaan Ibrahim dan kesabaran Sarah. Kehadirannya di usia tua mereka melambangkan rahmat setelah ketaatan. Ishaq menjadi anak ganjaran dan berkah, yang melanjutkan rantai kenabian dan karunia di kalangan Bani Israil.
Dalam kerangka Islam, peran Ishaq bukan untuk menggantikan Ismail, tetapi melengkapinya. Ismail membawa amanah perjanjian 🕋, sementara Ishaq melanjutkan misi kenabian di kalangan keturunannya 📖.
📚 Keturunan Ishaq melalui Ya‘qub (عليه السلام) terikat dengan Perjanjian Sinai yang diturunkan kepada Musa (عليه السلام), sedangkan keturunan Ismail tetap berada dalam lingkup Perjanjian Abrahamik yang universal — perjanjian primordial tentang ketundukan (islām) yang mencakup seluruh umat melalui Rasul terakhir, Muhammad ﷺ.
⸻
4. ⚖️ Pandangan Yudeo-Kristen: Persaingan dan Pilihan Ilahi
Dalam narasi alkitabiah (biblical narrative), rumah tangga Ibrahim sering digambarkan sebagai drama kecemburuan dan pengusiran. Kecemburuan Sarah terhadap Hagar menyebabkan pengusiran Ismail (Kejadian 16; 21), dan berkat perjanjian dibatasi hanya pada keturunan Ishaq. Ini membentuk teologi pilihan ilahi yang memprioritaskan satu garis keturunan di atas yang lain.
📖 Penulis Kristen seperti Paulus kemudian menafsirkan ketegangan ini secara spiritual, menggambarkan Ismail sebagai ‘anak menurut daging’ (‘born according to the flesh’) dan Ishaq sebagai ‘anak menurut janji’ (‘born through promise’) (Galatia 4:22–31). Tafsiran ini menguatkan dikotomi antara penolakan dan pilihan — perpecahan yang dalam pandangan Islam 🕊️ ditransendensikan dengan mengakui bahwa kedua anak adalah utusan ilahi dengan misi yang berbeda.
⸻
5. 🕊️ Restorasi Islam: Kesatuan Melalui Iman dan Ketaatan
Dalam visi Qur’ani, keluarga Ibrahim disatukan oleh ketundukan yang penuh iman, bukan terpecah oleh garis keturunan atau favoritisme. 🌱 Perjanjian didasarkan pada kebenaran dan ketaatan, bukan semata-mata nasab.
• Ismail adalah anak pengorbanan 🩸, melalui dialah kepemimpinan dan perjanjian ditegakkan.
• Ishaq adalah anak ganjaran 🎁, melalui dialah rantai kenabian dilanjutkan kepada Bani Israil.
🕋 Ka’bah, yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail (QS 2:125–127), menjadi simbol hidup dari perjanjian yang universal, sementara Taurat di Sinai merupakan perjanjian spesifik dengan Israel. Keduanya mencerminkan petunjuk ilahi dalam misi masing-masing — namun Islam melihat Perjanjian Abrahamik sebagai akar dari seluruh cabang perjanjian berikutnya 🌳.
⸻
6. 🧭 Implikasi Teologis: Perjanjian Sebagai Buah dari Ketaatan
📜 Kronologi Islam memperjelas urutan ilahi dari wahyu:
1. Ujian — Perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail.
2. Pemenuhan — Kedua-duanya tunduk pada kehendak Allah 🤲
3. Perjanjian — Kepemimpinan dan keberkahan ilahi ditegakkan (QS 2:124)
4. Ganjaran — Kelahiran Ishaq dan kelanjutan kenabian 🌈
Dengan demikian, Perjanjian Abrahamik muncul sebagai hasil dari ketaatan sempurna Ibrahim, bukan sebagai hak bawaan. Ismail menjadi saksi hidup atas hal ini, dan Ishaq sebagai kelanjutannya yang penuh berkah — keduanya bersatu dalam tujuan, berbeda dalam peran.
⸻
✅ Penutup
Dalam Islam, keluarga Ibrahim mencerminkan keseimbangan antara 🩸 pengorbanan dan 🌈 rahmat, antara 🔥 ujian dan 🎁 ganjaran, antara 📜 perjanjian dan 📖 kelanjutan.
Ismail adalah anak pengorbanan dan perjanjian, yang melaluinya ujian ilahi disempurnakan;
Ishaq adalah anak ganjaran dan berkah, yang melaluinya kenabian berkembang di tengah Bani Israil.
👥 Sementara keturunan Ishaq melalui Ya‘qub memasuki Perjanjian Sinai, keturunan Ismail menjaga Perjanjian Abrahamik — yang berpuncak pada pesan universal Islam: ekspresi terakhir dari tauhid sebagaimana yang dibayangkan oleh Ibrahim sendiri.
Dengan demikian, Islam mengubah kisah keluarga Ibrahim dari ❌ persaingan menjadi ✨ wahyu, dari perpecahan menjadi harmoni ilahi — di mana setiap anak, setiap perjanjian, dan setiap ujian mengungkap satu kebenaran abadi:
🕋 Ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allāh).